FILSAFAT ILMU

By: bangcupang

May 01 2011

Category: ikan cupang dan wanita

1 Comment


I. PENGERTIAN FILSAFAT

1.      Arti istilah dan rumusan filsafat

2.      Obyek studi dan metode filsafat

3.      Bidang kajian filsafat: Ontologi, Epistomologi, dan Aksiologi

4.      Aliran/Mazhab dalam filsafat

5.      Cabang-cabang filsafat

6.      Jalinan. Ilmu, filsafat dan agama.

II. PENGERTIAN FILSAFAT ILMU

1.      Arti istilah definisi filsafat ilmu

2.      Cakupan dan permasalahan filsafat ilmu

3.      Berbagai pendekatan filsafat ilmu

4.      Sejarah dan Perkembangan filsafat ilmu

5.      Fungsi dan arah filsafat ilmu

III. SUBSTANSI FILSAFAT ILMU

1. Kenyataan atau fakta

2. Kebenaran

3. Konfirmasi

4. Logika Inferensi

5. Telaah konstruksi teori

IV. DIMENSI KAJIAN FILSAFAT ILMU

1. Dimensi Ontologis

2. Dimensi Epistomologis

3. Dimensi Aksiologis

Thursday, September 30, 2010 Labels peradaban: Posted by bangcupang 6:54:00 PM

Sejarah persinggungan antara peradaban Islam dan Kristen Eropa abad pertengahan merupakan fenomena yang menarik untuk dipelajari. Menarik karena pada periode inilah terjadi pertukaran ilmu yang intens antara keduanya. Abduh Farraj menyebutkan beberapa peristiwa penting yang menjadi titik temu dan pengaruh peradaban Islam.

Sejarah persinggungan antara peradaban Islam dan Kristen Eropa abad pertengahan merupakan fenomena yang menarik untuk dipelajari. Menarik karena pada periode inilah terjadi pertukaran ilmu yang intens antara keduanya. Abduh Farraj menyebutkan beberapa peristiwa penting yang menjadi titik temu dan pengaruh peradaban Islam dan Barat diantaranya:

  1. Perang salib. Perang ini merupakan faktor utama gagalnya Gereja untuk mengungkung pemikiran masyarakat Eropa dalam ranah keagamaan. Pasalnya, berkat perang ini pandangan masyarakat Eropa menjadi terbuka setelah melihat peradaban lain (baca: Islam) yang lebih maju, terutama dalam ilmu pengetahuan dan filsafat.
  2. Gerakan terjemah dari Arab ke latin. Eropa mulai menerjemahkan buku—buku sains dan filsafat sejak akhir abad ke-11 hingga abad ke-13. Tepatnya setelah gairah umat Islam untuk menggelutinya mengalami pasang surut.
  3. Pendirian sekolah dan universitas. Peradaban Islam yang mendorong pengetahuan telah memancing minat Eropa terhadap pengetahuan. Gerakan filsafat di Eropa memulai tahapan baru setelah didirikannya sekolah dan universitas di luar gereja per abad ke-10. Gerakan ini dimulai sejak zaman Charlemagne (887). Universitas-universitas pertama dibangun di Eropa terletak di Italia, seperti di kota Bologna dan Milan. Walaupun masih kental dengan pengaruh Gereja, tapi sekolah di Bologna mulai mengajarkan penggunaan logika dengan detail. Pada abad ke-13 lahir universitas-universitas terkenal seperti universitas Toulousse (1229), Cambridge, Valladollid, Valencia (1209), dan Napoli (1244).

Jauh sebelumnya, penerjemahan buku-buku asing lintas disiplin ke dalam bahasa Arab sudah dilakukan sejak pemerintahan dinasti Umawiyah. Dengan pondasi keilmuan yang kuat, kaum muslim berhasil memanfaatkan karya-karya asing tersebut dan—bersamaan dengan persinggungannya dengan peradaban Kristen-Eropa—ilmu-ilmu tersebut diserap kembali oleh masyarakat Eropa.

Di antara sumbangan dunia Islam terhadap kebangkitan Eropa yang paling kentara meliputi bidang metodologi riset (metode induksi), geografi, astronomi, kedokteran, kimia dan filsafat. Tapi tidak semua gagasan, teori dan penemuan tersebut diserap mentah-mentah oleh umat Kristen-Eropa waktu itu. Temuan-temuan ulama muslim dalam bidang kedokteran dan optik misalnya, relatif dapat diterima daripada gagasan para filsuf muslim dalam bidang teologi lantaran berbenturan dengan konsep teologi Kristen. Buktinya buku Ibnu Sina “al-Qânûn fi al-Thibb” diterjemahkan pada abad ke-12 dan menjadi rujukan di sekolah kedokteran di Eropa hingga abad ke-17. Begitu pula buku “Tarkîb al-Kîmîyâ’” karya Jabir bin Hayyan.

Berbeda halnya dengan filsafat. Ide-ide para filsuf muslim diadopsi ke Eropa memang mendorong tumbuhnya pola berpikir rasional, terutama Ibnu Rusyd. Kuatnya pengaruh pemikiran Ibnu Rusyd bahkan menimbulkan golongan yang dinamakan Averroisme (al-Rusydiyyah). Walaupun pada periode selanjutnya, gagasan-gagasan yang diusung Averroisme tidak selalu mencerminkan pendapat Ibnu Rusyd, tapi pengaruh Ibnu Rusyd masih sangat kental. Dalam menanggapi filsafat Ibnu Rusyd, para pendeta dan filsuf Kristen tidak serta-merta menerimanya. Ada bagian-bagian tertentu yang ditolak dan dimodifikasi.

Jika ditilik dari sisi sejarah, filsafat Aristoteles sebenarnya lebih dahulu dikenal masyarakat Kristen Eropa daripada filsafat Ibnu Rusyd. Namun yang mereka kenal baru ilmu logika [manthiq]. Karena yang terjemahan yang dilakukan oleh Boece pada abad keenam masehi baru terbatas pada buku-buku logika.

Beberapa abad kemudian, tepatnya pada akhir abad keduabelas, Eropa kembali memalingkan perhatiannya kepada filsafat Aristoteles. Namun kali ini, filsafat tersebut tidak disambut dengan hangat. Karena pada pandangan Aristoteles mengenai alam dan metafisika mengandung beberapa poin yang bertentangan dengan Bibel dan pendapat Gereja. Sampai abad keduabelas, Gereja menganut pandangan St. Agustinus dalam masalah epistemologis. Sebabnya, St. Agustinus dianggap dapat “mendamaikan” antara dogma Kristiani dan rasionalitas filsafat.

Diantara ide yang diusung St. Agustinus adalah “aku beriman untuk berpikir” (Credo ut intelligas). Dengan kata lain, dalam usahanya untuk memasukkan unsur teologis Kristen dalam epistemologi, St. Agustinus mendahulukan iman daripada akal. Artinya, akal baru difungsikan setelah iman untuk memahami apa yang ia imani. Kedudukan iman lebih tinggi dari akal, dan konsekuensinya, apa yang dihasilkan akal tidak boleh bertentangan dengan apa yang dinyatakan oleh iman (baik melalui Bibel ataupun Gereja).

Sekilas pendapat Agustine berhasil memadukan antara akal dan iman, tapi sebenarnya iman yang dimaksud oleh Agustine masih bersifat dogmatis. Karena iman tersebut tidak dilandasi oleh keyakinan-keyakinan yang bersifat logis. Tapi berkat ini pula, konsep-konsep dasar dalam Kristen seperti trinitas dan penebusan dosa dapat “diamankan” dari jangkauan akal. Tak heran apabila kemudian konsep ini dipertahankan Gereja hingga sekitar delapan abad.

Filsafat Aristoteles kembali ke dunia Kristen Eropa melalui para filosof muslim seperti Ibnu Rusyd, al-Kindi. Buku-buku Aristoteles diterjemahkan dan dikomentari oleh Ibnu Rusyd. Namun filsafat dan terjemahan Ibnu Rusyd tidak diterima begitu saja di kalangan Kristiani. Thomas Aquinas memandang hasil terjemahan dan penjelasan Ibnu Rusyd terhadap karya-karya Aristoteles berbahaya bagi keyakinan Kristen (mis. Konsep qidam al-‘âlam). Thomas Aquinas bahkan menulis satu buku khusus yang mengkritik Averroisme.

Pendapat Ibnu Rusyd tentang qidamnya alam tidak saja mendapat tentangan dari dunia Islam, tapi juga dari para pendeta Kristen. Masalahnya dalam Bibel juga dijelaskan bahwa Tuhan menciptakan alam dari ketiadaan (creatio ex nihilo). Penolakan terhadap konsep qidam alam bukan barang baru dalam sejarah teologi Kristen. Jauh sebelumnya pada abad kelima masehi, St. Agustinus sudah menolak konsep alam Aristoteles yang mengatakan bahwa materi itu ada bersamaan dengan Tuhan. Alasannya, konsep tersebut dibangun atas pembagian Aristoteles terhadap wujud kepada dua bagian, materi (matter) dan bentuk (form). Dalam pembacaan Fuad al-Ahwani, konsep tersebut diambil Aristoteles dari kegiatan para pemahat Yunani. Mereka mempunyai gambaran (form) tentang apa yang akan mereka pahat dalam pikiran mereka, sebelum akhirnya diwujudkan dengan memahat kayu atau batu (atau dalam konsep alam tadi disebut dengan matter). Hal ini berarti materi punya eksistensi tersendiri yang independen dari sang kreator. Jadi konsep ini sama sekali berseberangan dengan teks Bibel.

Yang perlu diperhatikan dalam penolakan di atas adalah dalam menghadapi tantangan filsafat di masanya, Kristen berusaha untuk menyerap unsur-unsur filsafat dari Yunani sembari memodifikasinya agar tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran Bibel. Dimulai dari kritik St. Agustinus terhadap konsep alam Aristoteles, hingga penolakan Thomas Aquinas terhadap Averroisme.

Kegagalan Kristen dalam naturalisasi filsafat Yunani mengakibatkan dogma kristen berhadap-hadapan dengan akal secara diametral. Konsekuensinya, umat Kristen kemudian dihadapkan pada dua opsi yang saling bertolakbelakang, agama atau ilmu, bibel atau akal. Walaupun belakangan, ditempuh jalan keluar berupa pemisahan agama dari unsur-unsur keduniaan (mis. sains, ilmu, politik, ekonomi) dan penyingkiran agama dari ruang publik (sekularisasi).

Akhirnya, proses naturalisasi atau penyesuaian unsur-unsur yang diserap dari peradaban lain merupakan mekanisme yang wajar dan lumrah bagi setiap peradaban untuk mempertahankan identitasnya. Tak terkecuali peradaban Islam sekarang di tengah hegemoni pandangan hidup barat yang dihembuskan lewat globalisasi. Wallahu a’lam bishshawab.

Thursday, September 30, 2010 Labels Sekularisasi Ilmu: Posted by bangcupang 6:54:00 PM

Intelektual Profetik Gerakan Anti Sekularisasi Ilmu

Berangkat dari keyakinan diri ini akan kesempurnaan Ad Dinul Islam maka penulis akan menyoroti masalah sekularisme dan dampaknya terhadap ilmu pengetahuan. Islam adalah ajaran yang sempurna seperti firman Allah dalam Quranul Surat Al Maidaah ayat 3. Berangkat dari ayat ini kita dapat melihat Allah telah menyempurnakan Islam bagi kehidupan manusia baik dalam pandangan hidup, tata aturan masyarakat dan begitu pula konsepsi akan ilmu pengetahuan. Sehingga melihat landasan ini sudah sepantasnya tertanam di dalam dada kaum muslim bahwa kesempurnaan Islam adalah sesuatu hal yang absolut sesuai dengan firman Allah SWT di atas.
Secara bahasa istilah sekularisme berasal dari kata saeculum yang memiliki dua dimensi, yang pertama adalah dimensi ruang dengan pengertian di sini dan yang kedua adalah dimensi waktu dengan pengertian saat ini. Sekularisme memiliki pandangan akan kehidupan yang didasari akan pandangan di sini dan saat ini.
Secara makna sekularisme memiliki pandangan akan kehidupan yang memisahkan antara dunia dan akhirat, agama dan negara, akal dan wahyu, materi dan immateri, rasional dan irrasional. Sekularisme menjadi paham yang melihat sebuah realitas secara parsial dan menafikan segala sesuatu yang tidak bisa diterima secara rasional dan logis.
Sekularisme berkembang dari aliran filsafat Yunani yang diawali oleh pemikiran salah satu filsuf Yunani, Aristoteles. Aristoteles mempunyai pemikiran bahwa Tuhan setelah menciptakan alam semesta tidak lagi mempunyai peranan dan tanggung jawab dalam perputaran alam semeseta ini. Konsepsi Tuhan dalam pemikiran Aristoteles terpisah jauh dari realitas alam semesta sehingga memunculkan pandangan akan ketidak absolutan Tuhan. Pandangan ini akan menafikan realitas kekuasaan Tuhan dalam kehidupan alam semesta, khususnya manusia dan menyebabkan lahirnya pandangan pemisahan antara kekuasaan Tuhan dan kehidupan manusia.
Sekularisme juga dapat dilihat dari berkembangnya aliran pemikiran rasionalisme yang menafikan sesuatu yang diluar pemahaman akal. Dalam pandangan rasionalisme, segala sesuatu yang diluar pemahaman akal manusia dinyatakan bukan sebagai sesuatu realitas dan diyakini ketiadaannya. Pandangan ini menilai sesuatu yang nyata adalah segala sesuatu yang dapat dicerna melalui indera manusia yaitu dapat dilihat, didengar, diraba, dibaui, dan dirasakan. Apabila dalam proses penginderaan sesuatu tidak dapat ditangkap realitasnya maka konsepsi akan hal tersebut adalah tidak nyata atau tiada. Beranjak dari pemahaman di atas maka pandangan hidup yang terbentuk dalam peradaban Yunani Kuno adalah pandangan hidup yang materialistik yang melihat bahwa realitas dunia adalah materi dan menolak immateri dalam konteks pemahaman oleh akal.
Perkembangan ilmu pengetahuan dapat ditelusuri jejaknya dari peradaban besar yang terus hadir dalam peredaran dunia ini dengan silih berganti. Peradaban Yunani-Romawi, Peradaban Islam dan masa Renaissance. Penulis berpendapat salah satu faktor dalam perkembangan peradaban tersebut adalah berkembangnya ilmu pengetahuan sebagai trigger utama. Peradaban Yunani-Rumawi sebagai salah satu bangsa pionir dalam perkembangan ilmu pengetahuan tentu mempunyai andil dalam menyebarkan pemahaman yang materialistik dan rasionalistik.
Perkembangan peradaban Islam juga disinyalir mendapatkan pengaruh dari filsafat dan pemikiran Yunani-Romawi yang diterjemahkan oleh cendekiawan muslim ke dalam bahasa Arab. Tokoh utama dalam penerjemahan tersebut adalah Ibnu Rusyd atau di Barat disebut Averroes. Ibnu Rusyd menerjemahkan karya Plato dan Aristoteles, dan setelahnya dunia Islam melakukan aktivitas dalam dunia intelektual dengan kecepatan yang mengagumkan.
Dan adanya hubungan antara peradaban Islam dengan masa Renaissance di Barat juga diawali oleh adanya interaksi antara dunia Islam dengan dunia Barat. Diawali oleh perang Salib, interaksi sosial-budaya dan terjadinya transfer ilmu pengetahuan melalui penerjemahan karya-karya intelektual muslim oleh orang-orang Eropa, salah satu tokohnya adalah Edward dari Cremona. Kemudian muncullah budaya intelektual di Eropa abad pertengahan dengan Italia sebagai pusatnya. Tetapi ada satu hal yang berbeda dalam perkembangan ilmu pengetahuan di masa masuknya filsafat ke dalam peradaban Islam. Intelektual muslim mencoba merespon masuknya filsafat dengan melakukan proses penyaringan,penyeleksian dan pemilihan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Dalam pandangan penulis, Islam memiliki penilaian yang berbeda akan dunia dan alam semesta. Penulis berpendapat alam semesta adalah mahluk ciptaan Allah SWT yang terikat dengan hukum dan segala aturan milik-Nya. Begitu pula dalam melihat manusia, penulis melihat manusia sebagai mahluk Allah yang diberikan kewajiban untuk memakmurkan bumi. Al Baqoroh ayat 30.
Dalam menilai sebuah realitas penulis berpendapat tidak semua hal yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera adalah tidak nyata atau tidak ada. Penulis menilai ini disebabkan oleh keterbatasan panca indera dari manusia itu sendiri. Manusia hanya memiliki kemampuan penginderaan sesuai dengan yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Bayangkan jika kita memiliki kemampuan penglihatan atau pendengaran yang lebih daripada saat ini dimana kita dapat melihat ataupun mendengar segala sesuatu yang berada dalam radius 1 kilometer, baik terhalang bangunan ataupun tidak. Penulis menganggap akan terjadi keguncangan dalam diri manusia dikarenakan ketidakmampuan manusia dalam menanggung beban tersebut.
Dengan pemahaman bahwa manusia adalah mahluk Allah yang terikat dengan hukum-hukum-Nya, penulis beranggapan bahwa sudah selayaknya kita menolak konsep Sekularisasi dan Sekularisme. Pemahaman yang sekuler akan menyebabkan ketimpangan dalam kehidupan dan mendorong pandangan yang materialistik. Pandangan ini akan berpengaruh dalam segala bentuk kehidupan kita yang menyebabkan kita tidak dapat mewujudkan harapan kita akan Syumuliatul Islam. Padahal kita ingat, dunia ini hanyalah perjalanan dan tempat kembali kita adalah akhirat…


One comment on “FILSAFAT ILMU”

  1. […] FILSAFAT ILMU (via bangcupang) Posted on 2 Mei 2011 by bangcupang I. PENGERTIAN FILSAFAT 1.      Arti istilah dan rumusan filsafat 2.      Obyek studi dan metode filsafat 3.      Bidang kajian filsafat: Ontologi, Epistomologi, dan Aksiologi 4.      Aliran/Mazhab dalam filsafat 5.      Cabang-cabang filsafat 6.      Jalinan. Ilmu, filsafat dan agama. II. PENGERTIAN FILSAFAT ILMU 1.      Arti istilah definisi filsafat ilmu 2.      Cakupan dan permasalahan filsafat ilmu 3.      Berbagai pendekatan filsafat ilmu 4. … Read More […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: