pluralistik (Menurut Popper)


Menurut Popper maka tahap ini adalah penting sekali dalam sejarah berfikir manusia yang menyebabkan ditinggalkannya tradisi yang bersifat dogmatik yang hanya memperkenankan hidupnya satu doktrin yang di gantikan dengan doktrin yang bersifat majemuk (pluralistik) yang masing-masing mencoba menemukan kebenaran secara analisis yang bersifat kritis. Jadi pada dasarnya rasionalisme memang bersifat majemuk, dengan berbagai kerangka pemikiran yang dibangun secara deduktif di sekitar objek pemikiran tertentu. Dalam menafsirkan suatu objek tertentu maka berkembanglah berbagai pendapat, aliran, teori dan mashab filsafat. Dalam keadaan ini maka sukar sekali bagi kita untuk memilih mana dari sejumlah penjelasan yang rasional tersebut yang memang benar sebab semuanya dibangun diatas argumentasi yang bersifat koheren. Mungkin saja kita bisa mengatan bahwa argumentasi yang benar adalah penjelasan yang mempunyai kerangka berfikir yang paling meyakinkan. Namun hal ini pun tidak bisa memecahkan persoalan, sebab kriteria penilaian yang bersifat nisbi dan tidak bisa terlepas dari unsur subyektif. Di samping itu rasionalisme dengan pemikiran deduktifnya sering menghasilkan kesimpulan yang benar bila ditinjau dari alur-alur logikanya namun ternyata sangat bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya.

Yang dimaksud dengan tahap ontologis adalah sikap manusia yang tidak lagi merasakan dirinya terkepung oleh kekuatan gaib dan bersifat mengambil jarak dari objek disekitarnya serta memulai melakukan penelaahan-penelaahan terhadap objek tersebut. Sedangkan tahap fungsional adalah sikap manusia yang bukan saja merasa telah terbebas dari kepungan kekuatan gaib dan mempunyai pengetahuan berdasarkan penelaahan terhadap objek-objek di sekitar kehidupannya, namun lebih dari itu dia memfungsionalkan pengetahuan tersebut bagi kepentingan dirinya. Tahap fungsional ini dibedakan dengan tahap antologis, sebab belum tentu bahwa pengetahuan yang didapatkan pada tahap antologis ini, dimana manusia mengambil jarak terhadap objek di sekitar kehidupan dan mulai menelaahnya, mempunyai manfaat langsung terhadap kehidupan manusia. Bisa saja manusia menguasai pengetahuan demi pengetahuan dan tidak mempunyai kegunaan fungsional dalam kehidupanya.

Ilmu mulai berkembang dalam tahap antologis ini, manusia berpendapat bahwa terdapat hukum-hukum tertentu, yang terlepas dari kekuasaan dunia mistis, yang menguasai gejala-gejala empiris. Dalam tahap antologis ini maka manusia mulai mengambil jarak dari objek di sekitarnya, tidak seperti yang terjadi di dalam dunia mistis, dimana semua objek berada dalam kesemestaan yang bersifat difusi dan tidak jelas batas-batasnya. Manusia mulai memberi batas-batas  yang jelas kepada objek kehidupan tertentu yang terpisah dengan eksistensi manusia sebagai subjek yang mengamati dan menelaah objek tersebut. Dalam menghadapi masalah tertentu, maka dalam tahap antologis ini, manusia mulai mentukan batas-batas eksistensi masalah tersebut, yang memungkinkan manusia dapat mengenal ujud masalah itu, untuk kemudian di telaah dan dicarikan pemecahan jawabannya.

Dalam usaha untuk memecahkan masalah tersebut maka ilmu tidak berpaling kepada perasaan malainkan kepada pikiran yang berdasarkan penalaran. Ilmu mencoba mencari penjelasan mengenai permasalahan yang dihadapinya agar dia mengerti mengenai hakikat permasalahan itu dan dengan demikian maka ia dapat memecahkannya. Dalam hal ini maka pertam-tama ilmu menyadari bahwa masalah yang dihadapinya adalah masalah yang bersifat konkret yang terdapat dalam dunia fisik yang nyata. Secara etimologis maka ilmu membatasi masalah yang dikajinya hanya pada masalah yang terdapat pada ruang lingkup jangkauan pengalaman manusia. Jadi ilmu tidak tidak mempermasalahkan tentang hari kemudian atau surga dan neraka yang jelas berada diluar pengalaman manusia. Hal ini harus kita sadari, karena hal inilah yang memisahkan daerah ilmu dan agama. Agama berbeda dengan ilmu, mempermasalahkan pula obyek-obyek yang berada di luar pengalaman manusia, baik sebelum manusia ini berada di muka bumu seperti mengapa manusia diciptakan, maupun setelah kematian manusia, seperti apa yang terjadi setelah adanya kebangkitan kembali. Perbedaan antara lingkup permasalahan yang dihadapinya juga menyebabkan perbedaan metode dalam memecahkan masalah tersebut. Masalah ini harus diketahui dengan benar untuk dapat menempatkan ilmu dan agama dalam perspektif yang sesunguhnya. Tanpa mengetahui hal ini maka mudah sekali kita terjatuh kedalam kebingungan, padahal dengan menguasai hakikat ilmu dan agama secara baik, kedua pengetahuan ini justru akan bersifat saling melengkapi, pada satu pihak agama akan memberi landasan moral bagi aksiologi keilmuan sedangkan di pihak lain ilmu akan memperdalam keyakinan beragama.

One comment on “pluralistik (Menurut Popper)”

  1. […] pluralistik (Menurut Popper) (via bangcupang) Posted on 2 Mei 2011 by bangcupang Menurut Popper maka tahap ini adalah penting sekali dalam sejarah berfikir manusia yang menyebabkan ditinggalkannya tradisi yang bersifat dogmatik yang hanya memperkenankan hidupnya satu doktrin yang di gantikan dengan doktrin yang bersifat majemuk (pluralistik) yang masing-masing mencoba menemukan kebenaran secara analisis yang bersifat kritis. Jadi pada dasarnya rasionalisme memang bersifat majemuk, dengan berbagai kerangka pemikiran yang diban … Read More […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: